Terbentuknya Alam Semesta

Alam semesta merupakan salah satu topik pembicaraan yang tiada habisnya. Pasalnya, hingga saat ini tidak ada yang bisa mengetahui luasnya alam semesta. Hanya segelintir pengetahuan yang telah diketahui manusia dari luasnya pengetahuan tentang alam semesta. Ada banyak galaksi, planet, bintang, bahkan black hole yang ada di alam semesta. Contoh galaksi yang telah diketahui diantaranya adalah Galaksi Bima Sakti, Galaksi Andromeda, Galaksi Magellan, Galaksi Sombrero, dan Galaksi Ursa Mayor.

Namun pernahkah kalian berfikir dan bertanya-tanya tenatang bagaimana alam semesta, galaksi, dan planet itu terbentuk? Bagaimana terbentuknya matahari, bumi, bulan, dan planet lainnya? Ada beberapa teori yang menjelaskan proses terjadinya alam semesta, diantaranya adalah teori nebula, teori big bang, teori pasang surut, teori planettesimal, teori proto planet, teori bintang kembar, dan teori keadaan tetap.

1.     Teori Nebula

Teori nebula biasa disebut dengan teori kabut. Nebula berasal dari Bahasa latin yang berarti kabut. Teori nebula dikemukakan oleh Immanuel Kant dan Simon de Laplace. Teori ini menjelaskan mula-mula ada sebuah awan nebula yang berotasi dengan kecepatan sangat lambat sehingga mulai menyusut. Akibatnya terbentuklah sebuah cakram datar bagian tengahnya. Penyusutan berlanjut hingga terbentuknya matahari di bagian pusat dari cakram. Cakram berotasi lebih cepat menyebabkan bagian-bagian tepi cakram terlepas dan terlempar membentuk gelang-gelang bahan. Gelang-gelang bahan tersebut memadat membentuk planet-planet yang berevolusi mengelilingi matahari.

 

2.     Teori Big Bang

Secara harfiah, big bang dapat diartikan ledakan yang dahsyat. Teori big bang dikemukakan pertama kali oleh Abbe Georges Lemaitre pada tahun 1927.  Proses terbentuknya bumi berawal dari puluhan milyar tahun yang lalu. Pada awalnya terdapat gumpalan kabut yang berputar pada porosnya. Putaran tersebut memungkinkan bagian kecil terlempar dan bagian besar terkumpul di pusat membentuk cakram raksasa.  Suatu saat, gumpalan kabut tersebut meledak dengan dahsyat di luar angkasa yang kemudian membentuk galaksi dan nebula-nebula. Selama jangka waktu yang Panjang, nebula-nebula tersebut membeku dan membentuk galaksi-galaksi, salah satunya bernama Galaksi Bima Sakti, kemudian membentuk tatasurya. Sementara itu, bagian-bagian kecil yang terlempar mengalami kondensasi membentuk gumpalan yang mendingin dan memadat dan menjadi planet.

 

3.     Teori Pasang Surut

Teori pasang surut pertama kali disampaikan oleh Buffon. Buffon menyatakan bahwa tatasurya berasal dari materi matahari yang terlempar akibat bertumbukan dengan sebuah komet. Teori pasang surut yang disampaikan oleh Buffon kemudian diperbaiki oleh Sir James Jeans dan Harold Jeffreyes. Mereka berpendapat bahwa tatasurya terbentuk oleh efek pasang gas-gas matahari akibat gaya gravitasi bintang besar yang melintasi matahari. Gas-gas tersebut terlepas dan kemudian mengelilingi matahari. Gas-gas panas tersebut kemudian mejadi bola-bola cair dan perlahan mendingin dan mengeras membentuk lapisan-lapisan dan menjadi planet-planet dan satelit-satelit saat ini.

 

4.     Teori Planettesimal

Teori planetesimal dikemukakan oleh T.C Chamberlein dan F.R Moulton. Menurut teori ini, matahari sebelumnya telah dad sebagai salah satu bintang yang ada di langit. Suatu ketika ada sebuah bintang berpapasan dengan matahari dalam jarak dekat. Karena jarak yang dekat, tarikan gravitasi bintang yang lewat menyebabkan Sebagian bahan dari matahari tertarik ke arah bintang tersebut (seperti lidah raksasa). Bagian yang tertarik tersebut sebagian jatuh ke matahari dan sebagian lagi terhambur gumpalan kecil atau planetesimal. Planetesimal-planettesimal melayang di angkasa dan berevolusi mengelilingi matahari. Planetesimal besar menyapu yang lebih kecil dengan tarikan dan gravitasi membentuk planet.

  

5.     Teori Proto Planet

Teori proto planet biasa disebut juga dengan teori awan debu. Teori ini dikemukakan oleh Carl von Weizsaecker kemudian disempurnakan oleh Gerard P. Kuiper pada tahun 1950. Teori proto planet menyatakan bahwa tatasurya terbentuk oleh gumpalan awan gas yang jum lahnya sangat banyak. Suatu gumpalan mengalami pemapatan dan menarik partikel-pertikel debu membentuk gumpalan bola. Pada saat itulah terjadi pilinan yang membuat gumpalan bola menjadi cakram. Karena bagian tengah berpilin lambat mengakibatkan terjadi tekanan yang menimbulkan panas dan cahaya. Bagian tepi cakram berpilin cepat sehingga terpecah menjadi gumpalan yang lebih kecil. Gumpalan itu kemudian menjadi planet dan satelit.

 

6.     Teori Bintang Kembar

Teori hampir sama dengan teori planetesimal. Dahulu matahari merupakan bintang kembar. Kemudian salah satu bintang meledak menjadi kepingan-kepingan. Karena ada pengaruh gaya gravitasi bintang, maka kepingan-kepingan yang lain bergerak mengitari bintang itu dan menjadi planet-planet. Sedangkan bintang yang tidak meledak menjadi matahari.

 

7.     Teori Keadaan Tetap

Teori keadaan tetap pertama kali dikemukakan oleh H. Bondi, T. Gold, dan F. Hoyle pada tahun 1948. Mereka adalah para ahli astrofisika dari Universitas Cambridge. Dalam teori ini menjelaskan alam semesta tidak memiliki awal dan akhir. Alam semesta yang ada saat ini akan terus dalam keadaan tetap, baik dahulu maupun beberapa waktu yang akan datang. Berdasarkan teori keadaan tetap dijelaskan bahwa materi-materi di alam semesta secara terus menerus datang dalam bentuk atom hydrogen hingga membentuk galaksi lama yang bergerak menjauhi kita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mengenal Skala Waktu Geologi